Pages

Friday, October 16, 2015

Beji Dalem Sebatu.

Pura Sebatu, sungguh indah dan menarik, sangat berpotensi untuk dikembangkan pada konsep wisata spiritual. Pemandangan alam yang indah, air yang jernih dan suasana magis sungguh terasa begitu memasuki areal Pura Sebatu. Pura Sebatu juga merupakan Pura yang sangat keramat dan magis. Adapun sarana-sarana untuk penangkilan / melukat disini yaitu: 1.daksina pejati,terutama bagi mereka yang pertama kali melukat. 2.pejati yg dibawa hendaknya berisi pisang/biu kayu, berisi bunga tunjung warna bebas. 3.sarana muspa menggunakan kuangen dengan menggunakan bunga jempiring,sekar tunjung biru & pis bolong (uang bolong) 11 kepeng. 4.Pakaian yg di pakai nangkil yaitu pakaian adat bali, dimana pada saat melukat boleh hanya memakai kain kamen dan disarankan untuk tidak memakai perhiasan. tata cara melukat adalah sebagai berikut : 1.melakukan persembahyangan di pelinggih pura dalem pingit & kusti yang letaknya agak diatas dari tempat pesiraman,dengan menggunakan sarana kewangen. biasanya dipimpin oleh pemangku pada saat hari keagamaan spt purnama, kajeng kliwon, dsb. 2.usai sembahyang,kewangen yang ada uang kepengnya dibawa kelokasi melukat. caranya, kewangen di letakan di depan jidat atau ubun ubun seperti saat kita muspa, dengan membasahi kepala dan ubun ubun, setelah kepala basah lepas kewangan agar hanyut bersama air. 3.setelah selesai melukat,pemedek sembahyang sekali lagi di pelingih yang ada di dekat batu, sekalian nunas tirta dan bija. Keunikan dari tempat melukat di Sebatu ini adalah adanya perubahan warna air yang di pakai melukat setelah melalui badan kita, untuk orang yang memiliki penyakit biasanya airnya menjadi keruh (seperti air beras) . Disamping itu menurut pemangku setempat, Wanita yang lagi dapet tamu bulanan ( cuntaka ) dan anak kecil yang belum ketus gigi tidak diperbolehkan ikut melukat di tempat ini karena akan menangis terus menerus katanya. Jangan kaget bila pada saat melukat kita menjumpai ada penangkil yang nangklang-nengkleng seperti tarian rangda dan mengeluarkan suara suara seram atau aneh, bahkan banyak pula yang kerauhan, dan banyak lagi keanehan dan aura magis yang lainnya. Di areal paling ujung bagi pemedek yang sudah selesai melukat telah disiapkan tempat untuk ganti pakaian, kemudian pulang menyusuri jalan setapak yang penuh tanjakan dengan anak tangga yang sedikit licin namun tetap mengasikkan karena udaranya yang segar dengan diiringi kicauan burung mendayu.

Pedukuhan Siwa Bhuda.

Pedukuhan Siwa Bhuda .berada di desa Pujungan.Pupuan.Tabanan.Tepat di bawah kaki gunung Batukaru. suasan begitu tenang,sejuk dan penuh dengan aura positif.

Thursday, April 9, 2015

Ini pemandangan unik yang sering Anda lihat di berbagai gambar tentang Bali. Para perempuan Bali berkebaya putih berbaris panjang dengan susunan buah dan sesajen di atas kepalanya. Inilah tradisi Mapeed, perwujudan rasa syukur umat Hindu Bali kepada Yang Maha Kuasa. Bila Anda beruntung dan datang tepat 10 hari setelah Hari Raya Kuningan, ritual Mapeed bisa menjadi pengalaman yang menarik dalam liburan Anda. Dalam bahasa Indonesia, Mapeed memiliki arti berjalan beriringan. Ritual ini dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ritual ini peserta biasanya terdiri atas ibu-ibu rumah tangga yang menggunakan seragam berupa pakaian adat. Pada bagian rambut mereka ditata dengan sanggul. Kebaya khas Bali yang mereka gunakan pun memakai warna yang sama dan berbalut sarung khas perempuan Bali yang diikat dengan selendang pada bagian pinggang yang juga seragam. Selain itu, para peserta Mapeed ini juga ditemani oleh suami dan anak-anak mereka. Sanak keluarga yang ikut mengiringi perjalanan ritul Mapeed ini juga menggunakan pakaian adat Bali yang lengkap. Sampai saat ini ritual Mapeed masih terus dilakukan di Pura Adem Alas Kedaton, Kabupaten Tabanan, Bali. Ibu-ibu peserta Mapeed mengusung Gebongan dari banjar menuju Pura Dalem Alas Kedaton. Gebongan sendiri merupakan rangkaian buah dan sesajen yang disusun dalam tempat yang disebut Dulang. Uniknya, Dulang-dulang yang digunakan mempunyai tinggi rata-rata 1 meter. Setelah tersusun dengan apik, Gebongan pun mulai di "suun" atau mengusung di atas kepala masing-masing peserta. Kamudian, Gebongan-gebongan tersebut dibawa menuju ke pura. Sesampainya di pura, Gebongan yang sudah dibawa oleh peserta kemudian disucikan oleh pemangku setempat. Setelah pensucian dengan memercikan air suci yang disebut Tirtha, barulah persembahyangan dimulai. Perlu Anda ketahui, untuk menjaga kekhusyukkan biasanya wisatawan yang datang dilarang meliput. Anda tidak perlu khawatir karena bagian yang dilarang diliput hanyalah areal persembahyangannya saja. Jadi, wisatawan hanya diperbolehkan mengambil gambar dari luar tembok yang dikenal Panyengker atau tembok pagar pura. Ritual Mapeed ini memang sangat menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Selain tempat pelaksanannya yang indah dengan hamparan sawah yang mengelilinginya, Mapeed ini memang sangat unik dan menarik untuk Anda saksikan. - See more at: http://www.griyawisata.com/tour--travel-services/asia/artikel/keunikan-tradisi-mapeed-iring-iringan-unik-membawa-sesajen-khas-bali#sthash.ZZGk6S7R.dpuf

Sunday, November 23, 2014

Pura Luhur Pucak Bukit Rangda

Sejarah. Dalam Lontar Purana Jagat Bangsul disebutkan nama-nama gunung yang ada di pulau Bali. Diantara gunung-gunung tersebut ada disebutkan nama Bukit Rangda. Setelah itu juga disebutkan Sang Hyang Pasupati yang bersabda, bahwa keberadaan pucak Bukit Rangda diberkati semoga menjadi Kahyangannya Hyang Ludra yang disembah atau disungsung oleh seluruh keturunan orang Bali sampai kelak kemudian hari. Nama Bukit Rangda diambil dari kata buket dan rangdu. Buket bermakna tenget atau angker atau sakti tanpa tanding, rangdu sama dengan kepuh. Dinamai Bukit Rangda karena disana dulu ada pohon rangdu atau kepuh yang sangat angker atau tenget. Tentang mulainya dinamai Bukit rangda yaitu pada tahun saka 111 atau tahun 189 masehi. Setelah tahun berganti tahun, kemudian pada tahun saka 1315 atau 1393 masehi disebutkan Dukuh Mayaspuri yg bertempat tinggal di gedong purwa. Beliau mempunyai putra-putri yg bernama I Mucaling, Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Made Jelawung, I Nyoman Pengadangan, I Ketut Petung dan Ni Luh Rai Darani. Kemudian suatu hari I Mucaling ketentraman penduduk desa Lalanglinggah dengan melakukan penestian dan peneluhan atau pengeliakan untuk menghancurkan kawasan tersebut. Namun perbuatannya tersebut diketahui oleh Rsi Markandya, kemudian beliau melakukan pemujaan untuk menciptakan air tirta mukjizat yg sangat ampuh. Kemudian percikan air tirta itu menyebabkan I Mucaling Kepanasan dan kebingungan kumudian tidak tahan tinggal di Bukit Rangda. Hal tersebut menyebabkan I Mucaling mengungsi ke Jungut Batu dan kemudian menetap di Dalem Peed Nusa Penida. Tetapi saudara-saudaranya masih berada disana, kemudian mereka memeluk kaki Sang Rsi dan memohon perlindungan dari beliau. Kemudian Rsi Markandya memberiakan titah agar mereka mengantikannya untuk mendirikan Kahyangan Bhatara, sebagai tempat bersthananya Bhatara Hyang Ludra. Kemudian dibangunlah Kahyangan atau pura disana, lalu diupacarai atau diplaspas. Selain itu juga diselenggarakan upacara Pratistha Lingga di Kahyangan tersebut pada tahun saka 1340 atau 1418 masehi dan pura itu dimanai Kahyangan Penataran Pucak Bukit Rangda atau Pura Luhuh Pucak Bukit Rangda. NAMA DAN LOKASI PURA Nama lengkap Pura ini adalah PURA LUHUR PUCAK BUKIT RANGDA. Menurut Desa Administrasi, Pura ini terletak di perbatasan Desa Lalanglinggah bagian utara, dengan batas selatan Desa Mundeh, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Ditinjau dari Desa Adat, Pura ini terletak diantara Desa Adat Bangkiang Jaran, Bukit Tumpeng dan Penataran. Secara fisik geografis Pura Luhur Pucak Bukit Rangda terletak di tempat yang berketinggian 200 meter dari permukaan laut, berada di puncak sebuah bukit yang dikitari oleh jurang-jurang yang cukup terjal. Sesuai dengan namanya, Pura ini memang betul-betul berada di puncak Bukit Rangda. Menurut Lontar Purana Jagat Bangsul, kata Rangda berarti rangdu hutan atau kepuh, dan bukit berarti buket, dan buket berarti sakti tanpa tandingan. Bukit Rangda berarti tanah tinggi berbentuk bukit yang ditumbuhi rangdu hutan atau pohon kepuh besar yang keramat/ tenget atau mempunyai kekuatan gaib. Dengan demikian Pura Luhur Pucak Bukit Rangda adalah sebuah Pura yang terletak di puncak sebuah bukit yang dulu ditumbuhi pohon kepuh besar yang sampai kini tetap dikeramatkan karena mempunyai kekuatan gaib untuk melindungi keselamatan umatnya. Pura ini dapat dicapai melalui jalan darat Denpasar-Gilimanuk, sampai di Banjar Suraberata belok ke utara menuju Pancoran, Bangal, Penataran, Bukit Rangda, dengan jarak tempuh lebih kurang 20 Km. Melalui Yeh Bakung, Bangkiang Jaran, Penataran, Bukit Rangda, lebih kurang 8 Km. Dari Pupuan melalui kemoning, Belatungan, Bangal, Penataran, Pucak Rangda lebih kurang 30 Km. Dari Bajera lebih kurang 23 Km, dan sejauh lebih kurang 41 Km dari Ibu Kota Kabupaten Tabanan, atau lebih kurang 62 Km dari Kota Denpasar. Iklim disekitar Pura ini sejuk menyegarkan dengan panorama pantai Yeh Bakung yang sangat indah. Karya Agung Ngenteg Linggih.
Dudonan karya agung ngenteg linggih,mamungkah,mupuk pedagingan,tawur agung,mapadudusan agung,manawa ratna,wana kertih,@ Pura Kahyangan Jagat Luhur Pucak Bukit Rangda,( lalanglinggah,Selemadeg Barat,Tabanan)
18 Nov 14 : negtegang manik galih,ngingsah lan nyangling,
20 Nov 14 : nyamuh gede,metanding.
7 Des 14 : nuwur tirta,nedunang ida bhatara,mendak siwi,
14 Des 14 : melaspas linggih,melaspas bagia pula kerti,melaspas pedagingan,banten,
15 Des 14 : memenjor,wastra.
18 Des 14 : Ida bhatara desa pakraman pengempon kairing ke pura,
21 Des 14 : melasti pasih mekayu,mulng pekelem,
23 Des 14 : mepepada tawur.
24 Des 14 : tawur agung,panca kelud,mupuk pedagingan.
25 Des 14 : nyepi,oleman guru wisesa
26 Des 14 : mepepada karya,
27 Des 14 : puncak karya ngenteg linggih,
28 Des 14 : mapedanaan
30 Des 14 : ngeremekin,mepeed,
3 Jan 15 : ngelawa
4 Jan 14 : nyegara gunung
7 Jan 14 : nyineb karya,nuek bagia pula kerti,rsi bojana,
7 Feb 15 : abulan pitung dina. Sane arsa medana punia durusang....!!! Om Santih, Santih, Santih, Om

Monday, October 7, 2013

Pendakian Spiritual Menuju Pura Lempuyang

Jalan menuju Pura Sad Kahyangan Lempuyang menanjak dan berkelok-kelok.

Sampai di tempat parkir pura, hawa yang begitu sejuk menyambut seolah melepas penatnya perjalanan. Petualangan menuju pura baru saja akan dimulai. Sementara sibuk menyiapkan peralatan sembahyang, saya tidak lupa menyiapkan sebotol air mineral. Perjalanan pasti akan sangat melelahkan. Namun, satu hal yang mesti diiingat, “katanya” ketika  dalam pendakian menuju pura tak boleh bilang capek.
Logis saja. Ketika berpikir perjalanan melelahkan, masih jauh atau takkan sampai-sampai, maka para penangkil (umat yang akan bersembahyang di pura) akan menjadi semakin lelah dan kurang bersemangat.
Menapaki jalan aspal menanjak yang agak kasar, langkah-langkah kaki terasa berat. Ojek-ojek pun berkerumunan memburu para penangkil yang mungkin merasa kelelahan ataupun malas untuk jalan kaki.
Tiba di pura pertama yaitu Pura Penataran. Tangga-tangga menjulang tinggi menyambut kehadiran para penangkil. Namun, ketika sampai di Nista Mandala pura, woooww pemandangan begitu menakjubkan menunjukkan keelokannya. Diterangi sinar Sang Surya yang cerah, terlihat wilayah hutan Karangasem yang menghijau.
Bagian paling penting di sana bukan hutan itu tetapi gundukan tanah menjulang tinggi dibalut pepohonan hijau. Yaaa, itulah gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung. Siapa pun yang memperoleh kesempatan menyaksikan pemandangan menakjubkan akan membuatnya berhenti sejenak, merasa kecil, bangga, syukur yang teramat sangat. Seolah bercengkerama dengan awan-awan yang mengelilinginya, Gunung Agung benar-benar menunjukkan keagungannya ketika itu.

 Semakin rendah di hadapan alam yang begitu besar, keangkuhan akan nikmat dan semaraknya duniawi serasa semakin memudar sembari menuntun menuju pemujaan kepada Hyang Widhi di Pura Penataran. Arsitektur yang megah, sebuah candi bentar dibalut batu putih seolah-olah memisahkan keduniawian para umat menuju Madya Mandala.
Bale memanjang di sisi kanan candi bentar dan sebuah bale yang lebih kecil di sisi kiri mempersilakan para penangkil yang merasa kelelahan untuk beristirahat  sejenak. Terlihat tiga buah kori putih menjulang tinggi dan beberapa ekor naga menjulur ke arah Madya Mandala.
Patung-patung denawa pun menyemarakkan megahnya gaya arsitektur di sini. Di pojok kiri berdiri sebuah bale kul-kul yang juga berwarna putih.
Menuju ke Utama Mandala tangga-tangga curam harus dilewati. Ketika menoleh ke belakang. Kemegahan Gunung Agung seolah mendorong dan menyemangati dari belakang. Dan sekali lagi siapa pun yang kembali menoleh ke arah barat akan berkata, “Waaaahhh, terlalu menakjubkan.”
Beberapa pelinggih berjejer di sebelah timur dan lebih sedikit di bagian utara. Beberapa berbentuk padmasana seperti pada umumnya. Seorang pemangku melakukan pemujaan, pemandangan yang sangat biasa kita saksikan di pura-pura.
Tetapi kali ini, persembahyangan dilakukan beberapa ratus meter di atas permukaan laut, kesempatan yang sangat jarang. Tenang, hening dan khusyuk.
Ketika selesai melakukan persembahyangn, wangsuhpada yang dingin sedikit akan mengejutkan badan. Menuju ke pura selanjutnya yaitu pura Telaga Mas, jalan aspal yang menanjak kembali mengiringi perjalanan.
 Warung-warung berjejeran di sepanjang jalan menuju tempat persembahyangan. Lebih enak jika santai sejenak, menikmati air mineral seraya menikmati keindahan alam alami. Menghela napas panjang sebelum menghaturkan bakti.
Jika beruntung dapat dijumpai beberapa monyet liar bergelantungan di dahan pohon. Mereka akan membuat keriuhan kecil. Lucu dan agak menakutkan, tapi cukup menghibur, dalam helaan napas tak teratur.
Suasana hening sejenak ketika semua terkonsentrasi pada satu, Hyang Widhi, diiringi gema suara genta, dan puja-puja mantra. Air suci pun dipercikan ketika persembahyangan telah usai. Ini baru seperlima dari perjalanan, dan jalanan becek denagn medan yang lebih berat masih tersedia di depan.
Selanjutnya saya melakukan persembahyangan di dua buah pura yang tak terlalu luas. Saya lupa nama puranya karena tak ada tulisan atau papan nama di depan pura. Itu tentu tak menjadi masalah, yang jelas sujud bakti yang ikhlas kepada-Nya.
Dalam perjalanan selanjutnya menuju pura Pasar Agung, tangga-tangga yang berjejer rapi membentuk irama menunggu untuk dilewati. Untungnya, ada pegangan besi yang membantu. Selalu ada warung ataupun pedagang asongan yang duduk-duduk di samping penangkil seolah menanti para penangkil haus atau bahkan lapar, di tengah perjalanan ini.
Satu buah pelinggih berbentuk padmasana berwarna putih terdapat di sini. Walaupun tak ada pemisah atau pagar yang memisahkan pura ini dengan jalan menuju Pura Luhur suasana persembahyangn tetap berlangsung dengan khusuk. Air wangsuhpada pun terasa semakin dingin saja.
Kini jalan menuju Pura Luhur kondisinya berbeda dengan jalan-jalan yang dilewati tadi. Lebih nyaman untuk berjalan karena ada batu-batu tipis yang tertata rapi sehingga perjalanan terasa lebih ringan. Namun, tak tertinggal tangga-tangga menanjak yang membuat kaki makin terasa pegal.
Sebuah tugu kecil bertuliskan Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur menyambut. Ini merupakan pura terakhir dan pura yang paling utama. Tak terlalu luas memang, tapi suasana yang dihadirkan di puncak ini pun semakin terasa begitu tenang.

Menghadap ke Barat tepat di depan Candi Bentar, ujung Gunung Agung yang menjulang tinggi terlihat semakin memesona. Persembahyangan dimulai, angin puncak yang mendesir menyapa saraf-saraf yang semakin letih, tak dapat disangkal lagi inilah hawa sejuk istana Hyang Gni Jaya.
Terdapat dua buah pelinggih menghadap ke barat. Bentuknya hampir sama dengan pelinggih yang terdapat di Pura Pasar Agung, dan di Timur Laut terdapat Padmasana yang lebih tinggi. Uniknya di utama mandala pura ini tumbuh bambu yang di dalamnya terdapat air yang dipergunakan sebgai wangsuhpada. Adapun beberapa masyarakat yang nunas air suci ini untuk dibawa pulang.
Sungguh pendakian menakjubkan. Perjalanan begitu panjang dan melelahkan terhapus sudah oleh keindahan alam yang sulit akan ditemui di mana pun. Hal terpenting pencarian akan makna diri dan pendakian spiritual yang mewujudkan bakti umat ke hadapan yang satu Ida Sang Hyang Widhi Wasa

Tuesday, October 1, 2013

Tata Cara Melukat

















Pura Telaga Waja, Desa Kendran, Tegalalang.

Trayas trimsad devatas
Jugupur apsu-antah
[Atharva Veda XIX.27.10]

- Tiga-puluh-tiga [jumlahnya] dewata ada dalam air suci di alam dan melindungi umat manusia.


Keseluruhan alam semesta ini adalah rangkaian samudera energi [Prakriti] yang maha luas. Rig Veda menyebutkan, “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [dari materi asalnya energi dan dari energi asalnya materi]. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.  Pohon, batu, awan, gunung, dll, semuanya adalah serangkaian energi yang berwujud materi. Tubuh dan pikiran kita-pun juga serangkaian energi. Kita makan dan minum adalah manifestasi sederhana dari merubah materi [makanan dan minuman] menjadi energi.

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa perasaan mereka tidak tentram, gelisah, mudah marah, mudah mengantuk, mudah lelah, sakit kepala, mimpi-mimpi intens, sakit-sakitan, merasa kacau, dll. Ini semua disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan aliran energi dalam tubuh kita, dimana potensi energi untuk semua hal itu ada dalam diri kita. Sehingga kita perlu mencerai-beraikan energi-energi negatif yang menghambat di dalam diri kita melalui bantuan energi-energi alam semesta yang suci.

Melukat adalah salah satu ciri khas spiritualisme Hindu. Sebab melukat telah ada sejak jaman Veda, dimana dalam Veda sendiri tentang melukat ada dibahas dalam belasan sloka. Tapi dalam agama lain juga ada, seperti misalnya dalam tata cara Buddha di Tibet dan Kamboja.  Melukat adalah menerima pembersihan dan penyembuhan langsung dari Ibu pertiwi dan Bapak alam semesta. Medianya adalah air, karena air di alam berfungsi sebagai media penghantar dan sekaligus sumber vibrasi energi suci alam semesta yang sangat baik. Energi-energi negatif yang menghambat di dalam diri kita dicerai-beraikan, untuk kemudian diselaraskan dengan energi alam semesta yang suci. Fenomena ketidakseimbangan aliran energi ini sendiri bisa dideteksi sejak awal mula sekali, melalui kondisi kesehatan kita dan bagaimana riak-riak emosi dan perasaan kita sendiri.

Dalam Veda disebutkan bahwa tubuh dan pikiran kita ini sebuah sistem [bhuana alit] yang merupakan bagian dari maha-sistem [alam semesta/bhuana agung]. Semuanya saling mempengaruhi satu sama lain, melalui vibrasi-vibrasi yang tidak bisa kita lihat dengan mata, yang disebut vibrasi kosmik. Energi suci yang ada di alam semesta dapat mentransformasi kecenderungan negatif di dalam lapisan tubuh kita menjadi positif.

Di berbagai belahan dunia, "purification bath" atau melukat selalu dilakukan langsung berinteraksi dengan alam, agar alam semesta yang melakukan pemurnian. Tapi kalau di Bali ada juga melukat dilaksanakan melalui perantara oleh pandita, pemangku atau orang-orang tertentu seperti balian, dasaran, dll. Akan tetapi melukat seperti itu sangatlah ditentukan oleh tingkat kesiddhian dan kebersihan bathin orang yang melakukan penglukatan tersebut. Dan kita tidak tahu. Yang terbaik tetaplah pembersihan dan penyucian ini dilakukan langsung oleh alam semesta, karena alam semesta memiliki sifat memurnikan.

FAKTOR YANG MENENTUKAN

Ada empat faktor yang menentukan di dalam pelaksanaan melukat, yaitu :

1. Kebersihan bathin dan keseharian kita sendiri.

Analogi yang mungkin mendekati untuk bisa menjelaskan adalah : pikiran dan badan kita ini ibarat gelas yang akan menampung energi alam dan energi alam ibarat air yang akan mengisi gelas tersebut. Semakin bersih pikiran kita dari sad ripu, semakin besar ”gelas-nya”, sehingga semakin banyak energi suci alam yang bisa ”ditampung” dan hasilnya tentu semakin baik.

Tapi jangan khawatir bagi orang yang merasa bathin dan kesehariannya kurang bersih. Bagi orang yang tidak-tenang, gelisah, banyak marah, banyak benci, penuh nafsu, dll, justru melukat bisa sangat membantu menetralisir energi-energi negatif di dalam diri kita. Tapi dengan catatan hal ini harus dilakukan dengan benar dan rutin, sehingga melukat dapat menjadi hal yang sangat membantu meningkatkan pertumbuhan [evolusi] jiwa kita.

2. Lokasi.

Upahvare girinam samghate ca
Nadinam, dhiya vipro ajayata
[Rig Veda VIII.6.28]

-Di tempat-tempat yang hening, di gunung-gunung [daerah pegunungan] pada pertemuan dua buah sungai [campuhan], disanalah para maharsi mendapatkan pemikiran yang jernih [suci].

Tam u sucim sucayo didivansam
Apam napatam parithasthur apah
[Rig Veda II.35.3].

-Air suci murni yang mengalir, baik dari mata air maupun dari laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan.

Lokasi melukat sangatlah penting untuk kita perhatikan, baik secara niskala maupun sekala. Melukat harus dilaksanakan pada tiga lokasi titik air di alam yang terbaik, yaitu : sumber mata air dimana dijadikan tempat suci [misalnya : beji, pathirtan, dll], sungai suci atau pada campuhan [titik pertemuan dua buah sungai atau lebih] tertentu atau bisa juga di pantai [laut]. Lokasi-lokasi seperti ini umumnya memiliki vibrasi positif yang sangat kuat.

Ada dua hal yang sebaiknya kita perhatikan :

Secara niskala : sumber mata air, campuhan atau pantai tempat melukat, selayaknya dipilih yang memiliki vibrasi energi alam yang kuat. Akan tetapi tentunya hal ini tidak bisa dilihat oleh orang biasa secara kasat mata, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang mata bathinnya sudah terbuka. Tapi seandainya kita orang biasa yang tidak tahu caranya, kita bisa mencoba berbagai tempat melukat terlebih dahulu. Lalu kita bisa memastikannya dengan merasakannya sendiri, lokasi mana yang paling bisa membuat bathin kita menjadi jernih dan sejuk.

Secara sekala : sumber mata air, campuhan atau pantai tempat melukat, harus memiliki air yang bersih atau jernih dan tidak tercemar. Karena hal ini juga ikut mempengaruhi kualitas air sebagai media perantara.




















Pura Mangening, Tampaksiring.

3. Tehnik.

Di bagian penjelasan tentang tehnik ini ada dua hal yang sebaiknya menjadi perhatian kita.

- Pertama : persembahyangan, sebelum melukat maupun setelah melukat.

Dimanapun kita melukat, kita sembahyang dahulu disana sebelum melukat. Kalau anda punya pejati bagus, tapi kalau tidak ada pejati dengan bekal satu canang dan dupa saja sudah cukup. Seandainya juga tidak ada canang dan dupa, bisa kita gantikan dengan mempersembahkan Gayatri Mantra.

Persembahyangan permohonan penyucian sebelum melukat sangat penting, karena kalau diberkahi, kualitas kesucian air akan meningkat tajam. Kita mohon kepada Hyang Acintya dan dewa-dewi yang berstana disana, agar melalui penglukatan tersebut badan dan pikiran kita dibersihkan dari segala energi negatif. Khusus untuk di laut, kita mohonkan kepada Hyang Acintya dan Hyang Baruna [Dewa Varuna].

Kemudian, setelah selesai melukat, kita kembali sembahyang mengucapkan terimakasih. Lebih baik lagi kalau dilanjutkan dengan meditasi.

- Kedua : Tanpa busana.

Ada dua latar belakang mengapa kita sebaiknya melukat tanpa sehelai benangpun.

-1. Karena sesungguhnya ketelanjangan sempurna memiliki energi pembebasan yang sangat besar-.

Ketika kita tanpa sehelai benang-pun, disana terjadi banyak sekali pelepasan energi-energi negatif yang menekan dan membebani bathin kita. Itulah rahasia-nya mengapa dalam berbagai tradisi spiritual hal ini banyak dilakukan. Misalnya di Jawa kita mengenal Tapa Wuda [meditasi yang dilakukan tanpa busana]. Juga di India para yogi himalaya [naga sadhu] dari salah satu sekte Shiva-Tantra, mahayogi bernama Mahavira dan para pertapa-pendeta dari Agama Jain, mereka semua bahkan terus menerus sepanjang waktu kemana-mana tanpa sehelai benangpun. Ketelanjangan abadi mereka tentu saja bukan porno, terutama karena porno hanyalah sebentuk pemikiran, akan tetapi sebaliknya karena dari ketelanjangan terdapat energi pembebasan yang sangat besar. Energi ini oleh alam semesta akan ditransformasikan menjadi energi positif bagi badan [menguatkan dan menyembuhkan badan fisik] dan energi positif bagi pikiran [membersihkan bathin dari kemarahan, dendam, iri hati, rasa inguh, kebencian dan pikiran gelap lainnya].

Dalam teks-teks Hindu ini disebut "avadhuta digambara", yang berarti "berpakaian langit [tanpa busana] yang suci". Tanpa penghalang apapun melekat di badan, sebagai penyatuan kosmik dengan keseluruhan alam semesta yang tak terukur batas-batasnya. Serta melepaskan banyak energi-energi negatif yang menekan bathin kita. Dari rasa takut menuju ketabahan, dari kemarahan menuju welas asih, dari kebencian menuju perdamaian, dari keinginan menuju pelepasan, dari kegelapan menuju penerangan. Dimana semuanya adalah satu manunggal tanpa batas. Kita bukanlah tubuh ini dan pikiran ini, melainkan semuanya adalah satu manunggal tanpa batas dalam kemahasucian semesta.

-2. Karena seluruh bagian dari badan, termasuk bagian yang tersembunyi, semuanya harus berinteraksi langsung dengan air tanpa halangan. Sehingga proses pembersihan dapat terjadi sempurna

Seperti halnya alam semesta [bhuana agung], badan kita [bhuana alit] juga terbagi menjadi Tri Loka [tiga bagian]. Bhur Loka pada badan kita adalah bagian pusar ke bawah sampai ujung kaki. Bvah Loka pada badan kita adalah bagian leher ke bawah sampai pusar. Svah Loka pada badan kita adalah bagian leher keatas sampai ujung kepala. Di masing-masing bagian tersebut terdapat kekacauan simpul-simpul energi negatif yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain. Pada Svah Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah dahi, yang merupakan simpul energi dari kecenderungan pikiran atau persepsi pikiran kita. Pada Bvah Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah dada, yang merupakan simpul energi dari emosi dan perasaan kita, seperti misalnya : rasa sedih, rasa senang, rasa marah, rasa kecewa, dll. Pada Bhur Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah antara kemaluan dan dubur, yang merupakan simpul energi dari kecenderungan binatang kita, seperti misalnya : tidak ada sifat welas asih, tega, kejam, serakah, mementingkan diri sendiri, penuh nafsu keinginan, suka berkelahi, bertengkar, iri hati, dll.

Sangat penting dalam proses pembersihan ini, seluruh bagian dari badan, termasuk bagian yang tersembunyi, semuanya harus berinteraksi langsung dengan air tanpa halangan. Itulah sebabnya dilakukan tanpa busana. Karena hanya dengan badan yang sepenuhnya terbuka, disana seluruh kekacauan simpul-simpul energi negatif yang ada pada ketiga loka pada lapisan-lapisan badan kita akan dibersihkan secara menyeluruh. Sehingga proses pembersihan ini efektif, dimana energi suci alam semesta terdistribusi dengan baik, dapat lebur menyatu dengan keseluruhan lapisan badan fisik dan lapisan badan halus kita.


Para pertapa asketik di India bersiap-siap melukat di Sungai Gangga.

Saat akan memulai melukat ucapkan mantra ini, tujukan mantra ini kepada air sambil memandang air yang mengalir itu :

Apo adyanv acarisam rasena sam agasmahi
Payasvan agna a gahi sam prayaya sam ayusa
[Rig Veda I.23.23]

-Sekarang kami menerjunkan diri ke dalam air ini, kami meleburkan diri manunggal dengan kekuatan yang mewujudkan air ini. Semoga kekuatan suci yang tersembunyi dalam air ini, menyucikan dan memberikan kekuatan suci kepada kami-.

Tepat sebelum melukat ucapkan mantra ini, tujukan mantra ini kepada air sambil memandang air yang mengalir itu :

Apo asman matarah sundhayantu
Ghrtena no ghrtapvah punantu
Visvam hi ripram pravahanti devir
Ud id abhyah sucir a puta emi
[Rig Veda X.17.10]

- Semoga air suci berkah alam semesta ini menyucikan diri kami sehingga kami bercahaya gemerlapan. Semoga diri kami dibersihkan oleh air suci ini. Semoga air suci ini melenyapkan segala kekotoran kami. Kami akan bangkit [dari kegelapan] dan memperoleh kesucian darinya-.

Saat melukat ucapkan mantram ini : Om manah sarira parisudhamàm swàha [semoga badan fisik dan badan pikiran hamba menjadi suci]. Kalau melukat di mata air, ucapkan mantram tersebut di setiap pancuran [masing-masing] sebelum kita membasahi rambut, membersihkan seluruh bagian badan dan sebelum meminum airnya tiga kali. Kalau melukat di campuhan atau laut, ucapkan mantram tersebut sama juga sebelum kita membersihkan diri, tapi tidak usah meminum airnya. Lebih baik lagi kalau proses melukat ini [terutama di mata air dan campuhan], kita lakukan juga sambil mandi dan keramas [dengan sabun dan shampoo]. Sama dengan apa yang tertulis dalam Veda :

Jalasena–abhi sincata
Jalasena-upa sincata
[Atharva Veda VI.57.2]

-Mandilah seperti biasa dan basahi seluruh bagian tubuh [terkena air langsung] yang dipengaruhi [penyakit dan energi negatif] di dalam air suci-.

4. Waktu.

Sebenarnya waktu untuk melukat baik dan bisa dilakukan kapan saja setiap saat. Akan tetapi pada waktu-waktu tertentu vibrasi kosmik alam semesta lebih kuat dibandingkan hari-hari lainnya. Veda menyebutkan bahwa matahari mempengaruhi kepribadian kita dan bulan mempengaruhi pikiran kita. Kalender Bali dan Kalender Jawa [dengan dewasa ayu / hari baik-nya] sebenarnya adalah buku petunjuk yang selaras dengan Veda, yang diwariskan oleh tetua kita untuk kita semua, untuk bisa membantu kita mengenali hari-hari mana saja yang memiliki vibrasi alam yang kuat untuk kegiatan spiritual tertentu.

Salah satu pemilihan waktu [dimana vibrasi alam kuat] untuk melukat yang disarankan adalah pada saat Purnama, Purwani [satu hari sebelum dan sesudah purnama], Ngembak Geni [sehari setelah Nyepi], Banyu Pinaruh [sehari setelah hari raya Saraswati] dan Tilem [bulan mati], dll.

KESALAHPAHAMAN TENTANG MELUKAT

Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa melukat dapat menghapus dosa atau menghapus karma buruk. Pendapat ini kurang tepat, kalau dilakukan dengan cara yang tepat sesuai penjelasan diatas melukat mungkin bisa menghapus sebagian kecil karma buruk, tapi hukum karma hanya bisa berhenti [terhapus semua] ketika kita sudah mengalami moksha [pembebasan sempurna].

Melukat lebih kepada proses untuk membersihkan kekacauan simpul-simpul energi-energi negatif dari dalam diri kita dengan bantuan alam semesta. Sehingga lapisan-lapisan badan kita dibersihkan menjadi lebih segar-seimbang dan dan pikiran kita juga dibersihkan bertransformasi menjadi lebih baik dan terang. Terutama bila kita melakukannya secara tekun dan rutin, misalnya rutin setiap purnama dan tilem dan harus dilakukan dengan cara yang tepat sesuai penjelasan diatas.

Sebenarnya setiap hari para dewa-dewi dan alam semesta ingin menuangkan air suci yang berkelimpahan ke bathin kita. Sayangnya kebanyakan orang tidak sadar dan tidak nyambung dengan hal ini karena kebanyakan orang [ibarat gelas], gelas jiwa dan badannya ditinggikan dan ada sebagian orang gelas jiwa dan badannya ditutup. Ketika gelasnya direndahkan dan dibuka, maka disanalah air suci semesta yang memurnikan diri bisa masuk ke dalam jiwa.

( sumber : Rumah Dharma – Hindu Indonesia )


**Bagi saudara sedharma yg ingin melakukan perjalanan suci (tirtayatra) atau melakukan penglukatan ke beji-beji di Bali, silahkan hubungi kami di nomor 081338541173 / 081934338855. Kami siap menjemput ke alamat saudara dan mengantar kembali ke alamat saudara. Rahayu :-)